Minggu, 16 November 2014

Wisata Sungai Ngelantung

Wisata Sungai Ngelantung


Gambar diatas adalah gambar sungai yang ada di Dusun Kedung Lantung (Lantung adalah nama lain dari minyak) Desa Drenges Kec. Sugihwaras kab. Bojonegoro tentunya.  Jaraknya dari pusat kecamatan Sugihwaras kira-kira 5 km. Ini merupakan  salah satu tempat wisata yang ada di kota Ledre yang belum diketahui oleh banyak masyarakat Bojonegoro.  Banyak warga sekitar sugihwaras terutama  muda-mudi yang datang ke sungai ini untuk mandi, bermain-main, berkumpul dengan teman atau pacar, ada juga yang berkunjung untuk menghilangkan kepenatan setelah aktivitas sekolah. Hal yang membuat sungai ini menarik adalah lantai sungai ini terbuat dari batuan kapur yang telah mengeras dengan cekungan masa lalu berumur jutaan tahun yang terbentuk dari proses alam, makanya ada yang mengatakan bahwa sungai Lantung ini merupakan sungai purbakala.
Di sana juga terdapat satu tempat yang mengeluarkan minyak bumi dari tanah secara alami yang tercampur dengan air sungai, kemudian minyak tersebut naik di atas permukaan air sungai karena masa jenis air dan minyak berbeda, tapi kadarnya minyak tersebut  masih sedikit. Inilah alasan desa tersebut dinamakan desa Kedung Lantung (Kedung=tempat yang luas; Lantung=minyak).
Di sisi kiri dan kanan sungai Lantung ini terdapat pepohonan yang masih bagus semakin menjadi pelengkap keindahan sungai purba ini karena udaranya menjadi sejuk sehingga orang yang berkunjung ke sungai akan betah di tempat ini hingga membuat lupa waktu. Setelah capek bermain disungai ini kita dapat berteduh dibawah pohon yang ada dipinggir sungai dengan dilengkapi  suara kicauan burung yang membuat hati setiap orang yang bekunjung menjadi damai. Sayangnya sungai ini belum mendapat sentuhan daripemerintah setempat dan akses tranportasi berupa jalan yang belum memadai.

Oleh-oleh khas Bojonegoro

Oleh-oleh khas Bojonegoro

Bojonegoro adalah salah satu Kabupaten Jawa Timur yang terkenal dengan produk buatannya sendiri. Banyak orang ingin mengunjungi Bojonegoro karena memiliki makanan khas yang disebut "Ledre" dan "Salak Wedi".

Ledre
Bojonegoro
Ledre adalah jenis makanan ringan, khas Bojonegoro. Makanan ini dibentuk dengan cara digapit (seperti keripik emping yang digulung) dengan aroma pisang yang manis.

Yang menyenangkan adalah rasa dari pisangnya. Ini adalah makanan ringan khusus dari Bojonegoro yang terbuat dari gula, tepung, dan pisang, lalu digulung, sehingga tampak seperti tongkat. Ledre dengan rasa pisang telah menjadi snack favorit dari sebagian besar pengunjung.

Salak Wedi (Salacca Zalacca Fruit)
Bojonegoro
Salak Wedi, beda dengan buah salak pada umumnya. Salak ini memiliki rasa yang manis yang terasa berpasir. Maka dari itu dinamakan Salak Wedi atau salak pasir. Pohon Salak Wedi ini bisa ditemui di hampir rumah-rumah penduduk kabupaten Bojonegoro, khususnya desa Wedi dan sekitarnya.
http://www.eastjava.com/tourism/bojonegoro/ina/products.html

Produk Furniture Dan Kerajinan

Produk Furniture Dan Kerajinan

Bojonegoro
Selain makanan dan objek pariwisata, Bojonegoro juga terkenal dengan furnitur dan produk kerajinan. Bojonegro juga dikenal sebagai salah satu produsen kayu jati di pulau Jawa, karena Bojonegoro memiliki hutan jati besar dan lebar. Jadi, tidak mengherankan jika kabupaten ini memiliki banyak furnitur dan industri kerajinan yang terbuat dari kayu jati.

Perabotan Antik
Bojonegoro

Salah satu industri mebel di Bojonegoro adalah Mebel Antik. Ini adalah industri furnitur terkenal di Bojonegoro yang memproduksi berbagai jenis furniture indoor dan outdoor. Perabotan ini terbuat dari kayu jati kualitas tinggi dan dibuat oleh pengrajin profesional. Perabot ini merupakan mebel antik karena memiliki bentuk unik dan antik dengan desain yang tidak biasa. Anda dapat mencoba untuk mengunjungi Bojonegoro dan mendapatkan furnitur kayu Jati asli.

Kerajinan
Bojonegoro 
Pusat kerajinan ini terletak di kecamatan Kasiman, Bojonegoro. Anda dapat menemukan banyak kerajinan terbuat dari kayu jati, pohon kelapa, tempurung kelapa, dan bahan lainnya. Produk-produk kerajinan yang dibuat oleh pengrajin profesional dengan berbagai desain dan kerajinan, seperti; lampu kayu, hiasan dinding, vas, miniatur, dll Para pengunjung biasanya mengunjungi Bojonegoro dan membeli produk kerajinan ini untuk souvenir dan oleh-oleh.

Kerajinan Tanah Liat
Kerajinan tanah liat atau teracota ini juga merupaka produk yang unik khas dari Bojonegoro dan memiliki beraneka macam bentuk seperti hewan dan di warna dengan bentuk yang unik.
sumber:http://www.eastjava.com/tourism/bojonegoro/ina/furniture_handicraft.html

Sabtu, 15 November 2014

klenteng

Klenteng Hok Swie Bio

 

Bojonegoro
Klenteng Hok Swie Bio adalah salah satu wisata religi di Bojonegoro. Klenteng ini merupakan tempat ibadah Tri Darma yang terkenal dengan ornamen kepala naganya dan di dominasi warna merah.

Klenteng ini banyak dikunjungi setiap harinya, terutama pada hari raya Imlek. Ada banyak peziarah dari Bojonegoro dan daerah lain mengunjungi dan berdoa di sini. Klenteng Hok Swie Bio memiliki beberapa tempat istirahat, sehingga para pengunjung bisa tinggal di sini beberapa hari. Klenteng ini juga bersih dan nyaman.

Selain bentuk yang unik, klenteng ini juga dihiasi dengan beberapa ornamen bebatuan di sepanjang dindingnya yang menggambarkan kepala naga dengan tubuh berwarna biru.
sumber: http://www.eastjava.com/tourism/bojonegoro/ina/hokswiebio-temple.html

bendungan pacal

Bendungan Pacal

 

Bojonegoro 

Waduk atau bendungan pacal yaitu merupakan salah satu tempat wisata yang ada di Bojonegoro, wisata ini menyuguhkan lingkungan alam yang sangat mempesona karena di kelilingi oleh bukit-bukit yang sangat indah. Bendungan yang di bangun pada tahun 1933 pada jaman Belanda itu bernama Waduk Pacal ( Bendungan Pacal ) karena berada di desa Pacal.

Bendungan Pacal ini terletak 35 Km dari arah selatan kota Bojonegoro. Waduk Pascal yang memiliki luas sekitar 3,878 kilometer persegi dan kedalaman 25 meter ini, merupakan bangunan sarana pengairan peninggalan zaman belanda dengan manfaat multifungsi.

Daya tarik wisata ini adalah kemegahan dan kekokohan bangunan peninggalan zaman Belanda dan hamparan air yang melimpah dengan panorama alam dan hutan jati yang mempesona.

Di tempat ini, setiap bulan Oktober bersamaan dengan hari jadi Kabupaten Bojonegoro, digelar acara ritual Larung Sengkolo dan Jamasan Waranggono Tayub. Fasilitas yang tersedia di lokasi wisata ini adalah pesanggrahan (tempat menginap), arena memancing, perahu dayung dan beberapa warung atau restoran. Sangat pas untuk wisata keluarga.
sumber: //www.bojonegoro.eastjava.com

Jumat, 14 November 2014

api abadi

Kayangan Api

 

Bojonegoro 

Api Kayangan adalah salah satu obyek wisata yang sangat populer di Bojonegoro. Kayangan Api yang merupakan sumber api abadi atau yang tak pernah padam sekalipun ini terletak di desa Sendangharjo, kecamatan Ngasem, sebuah desa yang memiliki areal hutan seluas 42,29% dari luas desa.

Api yang keluar sebagai sumber abadi obyek wisata ini merupakan sumber api alam, dan merupakan sumber api terbesar di Asia Tenggara. Saat pengunjung akan menuju lokasi wisata Api Kayangan ini, mereka akan terlebih dahulu melewati indahnya hutan jati yang hijau dan rindang. Sesampaianya di lokasi, akan terdapat gapura dengan jajaran tiang yang akan menyambut.
Di tengah tiang tersebut terdapat lingkaran batu yang mengeluarkan gelombang panas, tempat dimana si api abadi bersemayam.
Masyarakat sekitar meyakini, bahwa tempat ini adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Mpu Supa, atau biasa disebut dengan Mbah Pandhe yang berasal dari kerajaan Majapahit. Mpu Supa merupakan seorang pande besi yang biasa membuat alat-alat pertanian dan pusaka. Kubangan lumpur yang berada di sebelah barat Api Kayangan dan berbau belerang dipercaya masyarakat bahwa, Beliau masih beraktifitas sampai "sekarang".

Dengan berbagai kepercayaan yang masih berkembang sampai saat ini, membuat Api Kayangan ini menjadi tempat yang sangat sakral. Api yang ada hanya boleh diambil jika ada upacara penting seperti yang telah dilakukan pada masa lalu, seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X dan untuk mengambil api melalui suatu prasyarat yakni selamatan / wilujengan dan tayuban dengan menggunakan fending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo.
sumber : http://www.eastjava.com/tourism/bojonegoro/ina/kayangan-api.html

Rabu, 12 November 2014

geografis kota bojonegoro

letak geografis kota bojonegoro

museum bojonegoro

Museum Rajekwesi Bojonegoro

 

Diawali dengan mengumpulkan benda-benda bersejarah temuan dan hibah dari warga masyarakat dan ditempatkan di halaman gedung lingkungan kantor kabupaten sehingga keberadaan benda-benda tersebut amat rawan hilang dan rusak. Maka atas usul kerjasama antara Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Daerah Kabupaten Bojonegoro dan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bojonegoro, dikumpulkan dan ditata benda-benda tersebut di suatu gedung lingkungan Kantor Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Bojonegoro yang difungsikan sebagai museum dan diberi nama museum “Rajekwesi” sampai sekarang ini.

Museum sederhana yang di dalamnya menyimpan prasasti cikal bakal Kabupaten Bojonegoro,  didirikan pada tahun 1992. Museum dengan luas bangunan sekitar 8 meter x 26 meter itu terletak di samping Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, tepatnya di Jalan Patimura No. 9 Bojonegoro.


Di dalam museum terdapat tiga ruangan. Ruang Pajang di depan yang menyimpan koleksi benda-benda purbakala, ruang tengah menyimpan koleksi benda-benda zaman sejarah klasik dan ruang belakang yang menyimpan koleksi etnografi. Fosil purbakala yang disimpan di antaranya fosil kepala gajah dengan panjang 37 cm, lebar 25 cm, dan tebal 20 cm. Fosil kepala gajah ini diperkirakan pernah hidup satu juta tahun yang lalu itu ditemukan di Dusun Karangpoh, Desa Jawik, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro.


 
Koleksi benda masa sejarah klasik atau sekitar 10 ribu tahun yang lalu juga cukup banyak. Ada arca Siwa yang terbuat dari bahan batu andesit menemani arca Ganesa yang sedang bersila. Kondisi arca Siwa dan Ganesa itu terawat dengan baik. Koleksi benda bersejarah lainnya yang tidak kalah penting adalah keris pulanggeni pada masa kerajaan Majapahit. Keris itu dibuat oleh Empu Ki Supo ketika mendampingi Raja Jayanegara saat melarikan diri ke daerah Bedander – sekarang dikenal sebagai Dander, salah satu kecamatan di Bojonegoro.

 
Raja Jayanegara mengungsi ke Bedander karena ada pemberontakan Semi dan Kuti. Keris pulanggeni itu tersimpan rapi di museum itu. Salah satu koleksi yang menjadi penanda cikal-bakal Kabupaten Bojonegoro juga tersimpan di sini. Prasasti Adan-Adan yang berupa tulisan Jawa Kuno pada 17 lempengan tembaga ditemukan di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, pada tahun 1992. Prasasti itu diperkirakan ditulis pada 1.300 tahun lalu pada masa kerajaan Majapahit. Prasasti itu menyebutkan tentang adanya Kadipaten Rajekwesi yang menjadi cikal-bakal Kabupaten Bojonegoro.
sumber: http://www.bloggerbojonegoro.com/museum-rajekwesi-bojonegoro.html

sejarah kota bojonegoro

Asal Usul Bojonegoro


 
Di waktu masa maha raja balitung (th – 910 M) yang menguasai jawa tengah dan jawa timur daerah yang sekarang dikenal dengan nama Bojonegoro belumlah ada. Yang ada hanyalah hutan luas yang di impit oleh pegunungan kapur di sebelah selatan dan utara yang dilewati sungai bengawan solo dan sungai brantas.
Kira-kira tahun 1000 masehi baru hutan ini yang menduduki yaitu orang-orang keratin madang kemulan. Awal mulanya hutan ini diberi nama “Alas Tuo” namaun setelah didatang masyarakat imigran dari jawa tengah. Mulai banyak didirikan desa-desa disekitar hutan. Diantaranya adalah Desa Gadung, Desa dander dan sebagainya. Para pendatang yang mendirikan desa-desa itu membuat masyarakat sendiri berdasarakan hubungan keluarga. Di tiap-tiap masyarakat tersebut terdapat kepala desa. Di antara kepala desa tersebut ada seorang kepala desa yang bernama Ki Rahadi yang menguasai Dukuh Randu Gempol. Akibat masuk kebudayaan hindu yang di terima Ki Rahadi maka cara pemerentahan meniru cara pemerentahan hindu. Nama Ki Raharadi di ubah Rakai Purnawakilan. Dukuh Randu Gempol diubah menjadi kerajaan Hurandhu Purwo (sekarang tempatnya di plesungan kapas). Beliau mengangkat dirinya sendiri menjadi raja yang mempunyai aliran Syiwa. Kerajaan diperluas dari gunung pegat hutan Babatan (sekarang babat) sampai purwosari cepu dan jatirogo (tuban) samapi layaknya benteng pertahanan kerajaan. Pusat kerajaan berlokasi di daerah kedaton (sekrang di daerah kapas).
Jalan propinsi kota bojonegoro (Jl. Gajah Mada, dipenogoro, kartini, AKBP M. suroko samapai jalan jakasa agung suprapto) dulunya masih berupa sungai besar yang sekarang dinamakan sungai bengawan solo yang waktu itu ramai sekali digunakan untuk perdagangan. Tempat raja berburu di desa padang dan sumberarum sekarang. Kerajaan Hurarandu purwa musnah bersamaan dengan hilangnya raja rakai pikatan secara turun menurun.
Di awal abad 19 indonesia berasa dalam kekuasaan pemerentah belanda. Di tahun 1824 ada 3 daerah di sekitar bojonegoro yang belum ikut dalam pemerentahan belanda yaitu daerah:
  1. Kabupaten Mojoranu (dander) yang dipimpin oleh bupati R.T. Sosrodiningrat.
  2. Kabupaten Padangan (desa pasinan) yang di pimpin oleh bupati R.T. Prawirogdo
  3. Kabupaten Baurno (desa kauman) yang dipimpin oleh Bupati R.T. Honggrowikomo
Ketiga buapti ini dalam pengawasan bupati madiun yang bernama R.T Ronggo yang mewakili kerajaan mataram di jawa tengah. Waktu itu nama bojonegoro belum ada. Pemerentahan belanda menginginkan ketiga kabupaten dijadikan satu dan di bentuk kabupaten baru yang ikut dalam wilayah pemerentahan belanda. Untuk keperluan tersebut 3 bupati tersebut diajak musawarah di daerah padangan. Hal ini terjadi tahun 1826. Tapi bupati mojoranu yaitu R.T Sosrodinigrat dapat dijadikan alasan karena sedang berpergian ke desa cabean, daerah rejoso nganjuk. Selama itu pemerentahan kabupaten mojoranu di serahkan kepada pateh demang R. Sumosirjo beserta putra-putrinya yaitu R.M Sosrodilogo dan R.M Surratin yang waktu itu masih didaerah nganjuk. Selama itu pemerantahan kabbupaten mojoranu diserahkan kepada pateh demang R. sumodirjo beserata putra-putranya yaitu R.M Sosrodilogo dan R.M Suratin yang waktu itu masih belajar agama di daerah ngithitik.
Pemerentahan belanda yang melihat untuk menyatuka 3 daerah menjadi gagal, lalu memasang rambu-rambu di wilayah mojoranu dan membuat tandingan yang di beri nama kabupten rajekwesi sekaligus membuat penjara sana. Yang di angkat oleh pemerentahan belanda menjadi bupati rajekwesi yaitu R.T Purwonegoro yang waktu itu masih berstatus bupati probolinggo hanya untuk semestara. Pusat kabupaten waktu itu berlokasi di daerah ngumpak dalem.
Karena pemerentahan di rejekwesi R.T purwonegoro tidak sesuai dengan yang diharapkan belanda maka belanda mengankat R.T joyonegoro menggantikan bapaknya yang di angkat sebagai bupati rajekwesi. Di mada pemerentahan belanda kapubaten mojoranu dianggap tidak ada. Melihat kenyataan yang demikian R.T Sosrodilogo juga mengadakan hubungan dengan pangeran dipenogoro di Mataram.
Disuatu waktu R.T joyonegoro malihat R.M Suratin R.T Sosrodiningrat seebagai bupati mojoranu memakai kebesan kerajaan. Saat itu juga R.M Suratin ditangkap dan dijebloskan ke penjara Rajekwesi. Kejadian itu diketahui R.T Sorodilogo. Setelah berunding dengan patih demangan R. Sumodiroojo dan demang kapoh maka R.T Sosrodilogo meminta bantuan pengeran dipenogoro dari mataram akhirnya dikirm bala bantuan sebanyak 40 orang.
Sengaja di buat lantaran akhirnya terjadi peperangan kecil diantara Mojoranu dan Rajekwesi. Ke 40 oarang dari mataram akhirnya ditwan dan pateh demangan R. Sumodirjo gugur dan dimakamkan di desa bendo (kapas) R.T Sosrodilogo juga dimasukan ke penjara dan dituduh sebagai pemberontak dipenjara di rajekwesi R.T Sosrodilogo bertemu dengan adiknya R.M Suratin. Keduanya akan mengadakan pemberontakan dengan perencanaan yang lebih matang dan rapi.
Akhirnya keduanya bida lepas dari penjara dan peperangan dimulai kembali. Kabupaten Rajekwesi dikepung dari berbagai arah. Dalam peperangan ini patih somodikaran gugur dan dimakamkan di desa yang sekarang disebut desa Sumodikaran (dander). Kekuatan kerajaan rajegwesi melemah. Pasukan mojoranu terus maju dan mendesak pasukan rajekwesi (rajekwesi hancur).
Pada daerah yang msih dikuasai pemerentahan belanda maka belanda mendirikan maracas kecil dan pos-pos pertahanan. Diantaranya di rembang Blora. Rajekwesi, Bancar, Jatirogo, Planturan, Babat, Kapas dll. Pasukan belanda semakin meningkatkan pertahanannya untuk mengimbangi pemberontakan rakyat. Sementra itu pahlawan R.T Sosrodilogo di rajekwesi dan sekitarnya .
Kemenangan Sosrodilogo bersama pengikut merebut rajekwesi akhirnya menimbulkan semangat perlawanan terhadap belanda di daerah lain. Kota Baorno yang diduduki belanda yang berda di perbatasan Surabaya dan tuban meraka kewalahan dan terancam. Pasukan rakyat juga menguasai daerah selatan padangan. Diteruskan kemudian akanmenyerang kota ngawi. Bisa dikatakan diakhiri. Tahun 1827 di daerah rajekwesi di penuhi dengan pemberontakan dan peperangan.
Pahlawan rakyat melawan pemrenthan belnda si awali dari pecahnya oerang di penogoro di mataram pda tahun 1825. R.T Sosrodilogo yang memimpin pasukannya merebut rejekwesi sempat  juga di jadikan perwira pasukan kraton Yogyakrata dan pangeran dipenogoro. Perlawanan rakyat juga dialami di kota blora dipimpin oleh Raden Ngabel Tortonoto yang akhirnya menguasai kota blora.
Akhirnya kota rajekwesi dibakar hangus  oleh pasukan mojoranu R.T Sosrodilogo bersama pasukannya menguasai semua daerah sekitar kabupaten rejekwesi. Bupati rajekwesi R.T joyonegoro melarikan diri meminta ke bupati sedayu. Sebelum sampai kabupaten sedayu teryata R.T joyonegoro bertemu dengan bupati sedayu di bengawan solo yang sudah siap dengan bala tentaranya yang akan membantu R.T joyonegoro.
Kabupaten sedayu merupakan sekutu rajekwesi yang sama-sama mengakui kekuasaan pemerentahan belanda. Di pinggir daerah rajekwesi bupati sedayu bersama pasukanya mendirikan markas-marakas kecil sementara pasukan lainya  diperentah untuk menyerbu kabupaten mojoranu. Sesampai di kabupaten mojoranu pasukan sedayu bertempur dengan pasukan mojoranu. Pasukan sedayu yang berasal dari  orang-orang masura dan makasar akhirnya terdesak dan  kembali ke markasanya.
Kota rajekwesi akhirnya diduduki oleh R.T Sosrodilogo salah satu kesalahan besar pasukan rakyat adalah setelah mengalami kemenangan dalam peperangan. Banyak dari pasukan itu mau bersenang-senang dahulu sebelum meneruskan peperangan selanjutnya. Hal ini di manfaatkan oleh belanda untuk mengumpulkan dan  menata kekuatan kembali.
Bantuan dari belanda mengalir terus menerus ke rembang dan rejekwesi. Pasukan belandaa dari padangan akhirnya dikirim masuk ke kota rajekwesi pasukan rakyat semakin terdesak. mojoranu dapat dikalahkan R.T Sosrodilogo bersama pasukan yang tersisa melarikan diri.
Pada tanggal 26 januari 1828 belanda dapat memasuki kota rajekwesi. R.T Sorodilogo malarikan diri ke arah selatan planturan. Semangat pangikut R.T Sosrodilogo menjadi lemah. Pada tanggal 7 maret 1828 bisa dikatakan pahlawan rakyat di daerah rembang. Rajekwesi dan lain-lain dianggap rampung.
R.T Sosrodilogo bersama saudarannya yaitu raden bagus menjadi buronan oleh pihak belanda. Belanda mengadakan seyembara untuk menangkap kesua orang tersebut. Raden bagus akhirnya diserahkan kepada bupati setempat R.T Sosrodilogo melarikan diri ke jawa tengah dan bergabung dalam peperangan dipenogoro. Namun ahirnya pada tanggal 3 oktober 1828 R.T Sosrodilogo menyerah kepada belanda.
Setelah peperangan usai maka pemerentahan belanda mengundang R.T Sosorodilogo dan bupati sedayu menghadiri pesta besar-besaran (suka-suka bojono) untuk merayakan keberhasilan mengalahkan pasukan mojoranu. Saat itu pula pemerentah belanda mengangkat R.T Joyonegoro menjadi bupati bojonegoro. Nama kabupaten bojonegoro di ambil untuk menggantikan kerajaan rajekwesi yang sudah hancur. BOJO yang berarti bersenang-senang dalam perayaan tersebut. Sedangkan NEGORO berati Negara. Saat itu pemerentahan belanda dipimpin oleh H. Marcus De Kock dengan perangkat Letnan Gubernur Jendar (1826-1830).
R.T Joyonegoro Bupati Bojonegoro 1827-1844.
Berdasarkan cerita pusat kabupaten rejekwesi dulunya terletak di daerah Ngumpak Dalem, maka setelah peperangan dipindah ke daerah boghadung yang terletak di sebelah utara rajekwesi. Berdasarkan pertimbangan pada pejabat waktu itu. Tidak baik mendirikan Negara di lokasi yang sama dengan alas an rejekwesi pernah kalah dalam peperangan mojoranu. Desa Boghadung yang terletak sebelah utara bengawan solo masih ikut darah tuban waktu itu.
Di tahun 1828 bengawan solo sudah terpecah menjadi dua aliran. Desa Boghadung yang tedinya berada di sebelah utara bengawan. Setelah pindah di Boghadung ini kabupaten rajekwesi berubah menjadi nama Bojonegoro.
Di sini di berkembang cerita bahwa kata BO dari bojonegoro diambil dari kata Boghadung yang akhirnya menjadi kata Bojonegoro. Ada pula cerita lain yang mengatkan bahwa bojonegoro berasal dari kata BOJON yang artinya SUGU atau tanah yang diberikan untuk Negara dari daerah Tuban. R.T Joyonegoro beserta keluarganya pindah ke bojonegoro dan pension menjadi bupati bojonegoro pada tahun 1844. (fauns)
sumber : http://www.bloggerbojonegoro.com/asal-usul-bojonegoro.html